Persiapan Pembelajaran New Normal

Sejak diterapkannya periode genting Covid-19 pada tanggal 16 Maret 2020, sebagian besar sekolah di Indonesia khususnya di Kendal ambil peraturan untuk evaluasi lewat daring atau disebutkan dengan evaluasi jarak jauh (PJJ).

Oleh karena itu Beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Kendal tengah siap-siap untuk mengaplikasikan proses evaluasi bertemu muka. Adapun formulasinya, tiap sekolah memiliki langkah tertentu yang dipandang efisien untuk keperluan evaluasi tanpa tidak pedulikan kesehatan.

Pada awal tahun 2021 ini menteri Pengajaran dan Kebudayaan, mengenai Penyelenggaraan Evaluasi pada Tahun Tuntunan 2020/2021 dan Tahun Akademis 2020/2021 di periode wabah Corona Virus Desease 2019 (Covid19),melontarkan surat selebarannya kembali untuk daerah Kendal mengenai penyelenggaran evaluasi secara bertemu muka akan di mengundurkan kembali pada tanggal bulan akhir Januari 2021, karena bertambahnya kasus pasien positif di daerah Kab. Kendal karena itu diterapkannya kembali periode PSBB.

Saat sebelum ditetapankannya evaluasi bertemu muka seperti yang sudah dilaksanakan oleh SMK NEGERI 1 KENDAL. Berdasaran Standard Operasi Proses (SOP) evaluasi secara bertemu muka SMK NEGERI 1 KENDAL tahun pelajaran 2020/2021. Atas Keputusan Bersama menteri. Pengajaran dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan. Sdan Menteri Dalam Negeri mengenai Penyelenggaraan Evaluasi pada Tahun Tuntunan 2020/2021 dan Tahun Akademis 2020/2021 di periode wabah Corona Virus Desease 2019 (Covid19).

Alat pengukuran temperatur badan ( thermo gun) yang dipakai tiap hari di saat murid, guru, tamu akan masuk di tempat sekolah, faksi sekolah SMK NEGERI 1 KENDAL sediakan Fasilitas bersihkan tangan sama air mengucur. Ssediakan sabun dan cairan pencuci tangan (handsanitizer), Cairan Disinfectan untuk. Spenyemprotan dilingkungan sekolah, Sarana service kesehatan juga di perhatian. SAberbentuk ruangan UKS dan mempunyai jaringan / kerja sama dengan Puskesmas Patebon 2. SRuang untuk isolasi untuk masyarakat sekolah yang alami permasalahan kesehatan. Ssebagai mengantisipasi perlakuan sementara, umtuk penuhi. Standard Operasi Proses (SOP) SMK NEGERI 1 KENDAL lakukan menjaga jarak Di antara murid satu dengan murid. Slainnya yakni dengan batasi Jumlah meja dan bangku yang dipakai tiap ruangan evaluasi optimal untuk 18 orang.

Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan, Bukan Apa yang Kita Inginkan!

Sahabat saya baru sadar dengan pernyataan dari salah satunya Kompasinaer senior, sekalian penulis Yasasan Thamrin Dahlan, yaitu Pak Ajinatha. Di mana salah satunya artikelnya yaitu dengan judul,”Kru Film sinetron dan Film Tidak Beda Kelas.”

Pasti saya tidak tidak kupas apa yang telah diceritakan oleh Pak Ajinatha. Tetapi, saya ingin menceritakan bagaimana harapan saya selalu bertentangan dengan kenyataan.

Tuhan tahu apakah yang kita perlukan, bukan apa yang kita harapkan. Berulang-kali saya tidak berhasil masuk Media. Walau sebenarnya jadi Wartawan ialah harapan saya. Tetapi, fakta yang saya rasakan di atas lapangan selalu tidak seindah dan semenarik imajinasi.

Jujur saya telah tidak berhasil di sejumlah Media, ya awalannya saya pikir, mungkin saya tidak punyai spirit di situ. Apa lagi syarat masuk Media minimum Diploma. Walau sebenarnya saya cuman tamatan SMA, jauh jauh dari harapan pemilik Media.

Tetapi, malam hari ini saya benar-benar mengucapkan syukur jika dengan artikel Pak Ajinatha, saya mendapatkan pencerahan bahwasannya Tuhan tidak kasih apa yang kita harapkan. Tetapi, Tuhan kasih apa yang kita perlukan.

Peluang kita mempunyai kesempatan yang kecil untuk capai apa yang kita harapkan. Sebagai pendekatan kontekstual, begini dech, kita telah menulis dengan segenap hati. Keinginannya ialah dapat masuk cap opsi, atau jadi artikel khusus. Tetapi, tidak juga kita peroleh harapan itu. Lantas kita berduka, kandungan atau semangat berusaha kita tergerus oleh keinginan kita yang tidak sesuai dengan harapan.

Jika flasback berkenaan kehidupan sejauh ini, tentu saja saya telah terima karena dari Tuhan, berbentuk 3 kreasi yang telah saya keluarkan di Media Bikin. Tidakkah ini ialah hadiah atas sesuatu yang saya perlukan? Jika saya ngotot untuk memperoleh apa yang saya harapkan, saya akan mendapat masalah. Kurang lebih fotoan cerita saya serupa dengan penelusuran kita akan keadaan psikis bangsa sekarang ini. Ah, dibanding out of the box, mendingan kita teruskan topiknya.

Tetapi, saya mengetahui bahwasan kita tidak pernah senang dengan yang kita peroleh. Ya, karena kodrat kita ialah cari.

Wes, kita bermain di ranah filsafat ya, sahabat. Tetapi, next time ajalah sahabat. Karena filsuf Plato dalam norma Nikomachea menjelaskan jika, penelusuran paling tinggi dan paling akhir dari manusia ialah kebahagiaan.”

Jualan Itu Life Style-nya Sales Sejati

Dibalik keberhasilan sebuah Perusahaan atau Tubuh Usaha Punya Negara (BUMN) tidak lepas dari Sales-sales yang andal dalam sektornya.

Apa lagi keadaan negara dan bangsa kita saaat ini mewajibkan kita untuk belajar pada rumah, kerja di rumah (WFH), melihat info sekitar usaha, olahraga, politik apa saja dari rumah. Maka hipotesa atau ringkasan sementara ialah rumah mempunyai posisi spesial dalam soal apa saja.

Ya ampun bago jago, memang rumah ialah istana untuk siapa saja. Ya, itu kan pola/rangka memikir kita sekarang ini. Tetapi, coba berakrobat/berakselerasi dengan life model kehidupan saat sebelum Wabah. Boro-boro rumah jadi istana, wong jarang-jarang di dalam rumah juga. Argumen klise, repot kerja, rapat dan kepentingan pekerjaan, dan lain-lain. Pada akhirnya, jarang-jarang ada di dalam rumah. Tidakkah demikian teman?

Okey teman. Saat ini kita pancal gas ke arah karier Sales. Biasanya jika kita melamar pekerjaan dimanapun, lalu faksi Perusahaan memberikan, tawarkan karier Sales, kita akan usaha untuk menghindariinya. Ya, karena kita berasumsi jika kita tidak mempunyai spirit di situ. Karena dunia Sales cuman sekitar tawar-menawar. Ya, mirip-mirip Pemasaran lah. Perbedaannya, Pemasaran cuman ada di meja Kantoran. Lantas yang rasakan pahit getirnya perjuangan ialah sisi Sales.

Pada awal saya telah ucapkan jika ide tiba darimanakah saja. Korelasi, jalinan ide yang saya peroleh ini hari ialah saat melihat status rekanan sekalian tutor saya yaitu, Pak Krissan Manalu. Beliau ialah Founder ILI (Informasi Lowongan Kerja Indonesia). Tentu saja untuk anda yang telah mempunyai account Linkedin, tidak asing kembali bernama beliau.

Saya juga minta ijin lewat pesan WhatsApp-nya untuk pinjam istilah “Sales Sejati.” Beliau juga meluluskan saya. Karena itu lahirlah artikel receh atau simpel ini. (Argumen kaidah).

Tiap orang dapat jualan apa. Tetapi, cuman sedikit orang yang masih survival pada kondisi apa saja. Ada yang adopsi Sales “Sprint, Marathon,” tetapi kurang kuat dalam stabil. Demikian juga saya dan anda.

Kita telah jualan siang dan malam, tetapi saat kita hadapi keadaan yang susah, perasaan patah semangat lagi memburu kita, melewati harapan.

Pembaca Kesejuta, Menulis Bekerja untuk Keabadian

Bagaimana juga ini ialah sebuah perolehan yang penting dihargai dan saya harus berikan motivasi diri saya sendiri supaya lebih bernafsu serta lebih produktif untuk menulis, secara jumlah khususnya kualitas yang berada di.

Semenjak tergabung pada Desember 2017 lalu, saya sudah hasilkan 675 tulisan dan cuman setengah atau 369 tulisan yang dikasih cap artikel opsi dan 20 salah satunya sukses masuk kelas artikel khusus, dengan rerata keterbacaan keseluruhnya 1.482.

Itu kemungkinan salah satunya pemicu kenapa sampai ini hari oleh team inovatif Kompasiana, saya masih terkonfirmasi contreng hijau. Karena dari sisi cap rapor saya masih merah, cuman memperoleh nilai 54,67.

Salah satunya kesan-kesan saya sepanjang menulis di Kompasiana ialah, ada hati tidak senang saat artikel yang saya catat tidak dikasih cap oleh admin. Tapi lebih tidak senang kembali saat artikel yang saya catat cuman dilirik oleh sedikit pembaca.

Seperti pernah saya bahas dalam salah satunya artikel awalnya, bila harus pilih di antara cap atau jumlah pembaca. Skarena itu saya jauh cenderung pilih jumlah pembaca yang banyak. Karena dengan itu saya berasa sukses sampaikan isi pemikiran saya.

Karena untuk saya menulis adalah langkah yang terbaik untuk sampaikan gagasan dan ide yang ada dalam “kepala” saya ke seseorang. Entahlah gagasan itu baik atau ngawur, yang perlu saya sudah sampaikannya dan pembaca ketahuinya.

Dan untuk saya menulis adalah langkah untuk tinggalkan tapak jejak. Seperti quote Pramoedya Ananta Toer “Orang bisa pintar setinggi-tingginya, tetapi sepanjang dia tidak menulis. Sdia akan raib dalam warga dan dari riwayat. Menulis ialah bekerja untuk keabadian.”

Itu kenapa saya lagi usaha untuk menulis bahkan juga saat saya sedang tidak mood untuk menulis. Karena menulis ialah bekerja untuk keabadian dan supaya saya tidak raib dari dalam warga dan riwayat.

Dengan menulis saya banyak belajar hal. Bagaimana memakai kalimat secara efisien, bagaimana pilih pilihan kata yang pas. Sbagaimana pilih referensi yang pas serta bagaimanakah cara memakai tanda baca secara baik.

Pandemi Melahirkan Kebingungan Peran

Jika anda yang pernah bergulat di dunia Psikologi, tentu saja kenal kembali dengan penglihatan saya. Karena penglihatan saya ini berawal dari tuntunan Psiokolog Erik Erikson.

Nah, sebaiknya kita berekreasi adrenalin dengan psikiater yang ini. Tentu saja saya tidak kupas atau menggambarkan kembali biografi Erikson. Anda cukup minta panduan di mbak google.

So, kita awali mengenali teori ke-enam Erikson yaitu “Identitas versus Ketidaktahuan Peranan.”

Background pendekatan saya ialah kondisi kita sekarang ini. Di mana Wabah sudah mengaburkan identitas kita. Mengakibatkan, kita berasa bingung dengan peranan kita.

Jati diri atau arah hidp kita saat sebelum Wabah ialah seorang praktisi literasi di salah satunya sektor. Tidak diduga, Wabah sudah tiba, lalu mengaburkan identitas kita. Kita usaha untuk cari peranan baru, untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Tetapi, di lain sisi, kita telah kehilangan jati kita sebagai praktisi literasi. Karena, peranan khusus kita sudah ditukar dengan peranan baru yang sekarang ini kita lalui. Tentu saja, peranan baru kita sekarang ini belum aman, senyaman peranan kita saat sebelum Wabah.

Kita seperti seorang remaja yang mulai bergulat dengan identitasnya. Di mana kita awali bergulat dengan beberapa pertanyaan landasan sekitar, apakah itu sex dan seksualitas? Apa arah hidup saya? Mengapa saya semacam ini? Apa yang perlu saya kerjakan?

Ketidaktahuan akan identitas kita rawan pada bermacam masalah psikis. Salah satunya ialah, stres, stress, masalah komunikasi dengan pasangan, anak, orang-tua, sanak family, teman dekat dan siapa saja yang ada di seputar kita.

Beberapa masalah ini jika tidak ditangani, akan punya pengaruh pada kehidupan kita sesudah Wabah. Di mana sesudah Wabah, kita akan kembali ke kehidupan normal. Permasalahannya, kita akan berasa bingung untuk pilih peranan yang mana?

Serba susah ya. Ada orang yang pilih untuk meng-handel, mengembangkan ke-2 identitas itu. Ada orang yang berani melepas salah satunya peranan, untuk kenyamanan dan waktu senggang dengan keluarga.

So, jalan keluarnya ialah kita harus tentukan peranan yang mana kita lalui. Apa kita harus melepas peranan lama, dan konsentrasi pada peranan baru? Atau mungkin kita melepas peranan baru, dan kembali ke peranan lama kita?

Jejak Aksara Milenial di

Diksi diksi kangen cuman dapat didapat lewat membaca dan menulis. Membaca bisa membuat bertambah khazanah pengetahuan kita mengenai dunia.

Kita tidak perlu mengelana, menelusuri penjuru dunia mana saja, cukup hanya membaca! Membaca ialah sisi tujuan rekreasi yang masih belum dinikmatin oleh beberapa orang.

“Tapak jejak Aksara” adalah coretan angkatan Milenial pada bulan Januari. Kedatangan buku ‘Jejak Aksara’ sebagai bukti bahwasan angkatan Milenial tidak cuma dikenali sebagai golongan tiduran. Tetapi angkatan Milenial memberi peran yang besar sekali dalam memajukan literasi Indonesia.

Literasi membaca masih adalah permasalahan paling besar untuk pemilik +62. Permasalahan ini tidak cuma ada di tanah air tersayang, tetapi permasalahan ini jadi perhatian serius dari PISA (Program for International Student Assessment) yang umumnya diselenggakan tiga tahunan.

Untuk menangani permasalahan ini, tidak cuma pekerjaan Pemerintahan Pusat di bawah Kemendikbud, tetapi kita semuanya wajib perjuangkan literasi membaca di mana saja dan kapan saja kita ada.

Perjuangan kita untuk menghidupkan budaya membaca, dapat dilaksanakan dengan apa saja. Bergantung kreasi kita. Kita dapat menganimasi budaya membaca lewat media bikin (Majalah, Koran, Komik, Novel, dan lain-lain.) Sementara animasi membaca lewat digital (Media Online, website, You Tobe, Tv, dan lain-lain).

Kompasiana adalah Basis digital yang pas untuk literasi membaca dan menulis. Diksi-diksi kangen akan bersatu dalam irama aksara.

Tapak jejak aksara yang sekarang datang di depan anda ialah paket dari artikel opsi saya sepanjang menulis di Kompasiana. Kedatangan saya di Kompasiana baru saja, tetapi ada kegelisahan yang tetap memburu saya untuk menghidupkan ketertarikan membaca dan menulis untuk angkatanku.

Kedatangan buku “Tapak jejak Aksara” sebagai persembahan saya untuk literasi Indonesia. Dari rumah Kompasiana, saya berani mengulik pemikiran, rasa dalam nadi aksara. Paket aksara tinggalkan tapak jejak digital saya di dalam rumah Kompasiana.

Bermula dari kekhawatiran akan lemasnya budaya membaca dan menulis, saya membulatkan tekad untuk mendatangkan buku “Tapak jejak Aksara” sebagai kreasi Milenial di tengah-tengah Wabah.

Diksi-diksi kangen yang tersaji dalam buku ini, seperti style dan kepenulisan Milenial. Style kepenulisan Milenial selalu mengambil sumber dari filsafat jalanan. Di mana saya menulis seperti apa yang dirasakan oleh angkatan Milenial sekarang ini.

Mungkinkah Bahasa Daerah Hilang Ditelan Zaman?

Bisa senang kuasai belasan bahasa asing, seandainya tidak boleh durhaka pada bahasa wilayah!

Pernah ngak saksikan sama-sama yang dari suku A,B dan C yang mulai masuk “Sindrom Amnesia Bahasa’. Mungkin istilah ini tidak ada di KBBI. Tidak apalah, yang paling penting kita bisa membenahi nalar untuk menelanjangi angkatan yang berlagak tahu mengenai bermacam bahasa, tetapi lupakan akar bahasanya sendiri.

Trend amnesia bahasa wilayah menjadi hal yang wajar di kehidupan angkatan Milenial dan Alpha yang ada di perantauan.

Sekian hari lalu, saya berjumpa dengan salah satunya teman dekat yang dari wilayah saya juga. Kebenaran dia telah lama tinggal di perantauan, dan bekerja di salah satunya perusahaan terkenal negeri ini.

Sebatas kami sama-sama melepaskan rindu dan ber-say-hello. Pembicaraan kami mulai ngalir. Selang beberapa saat, dia bicara memakai bahasa computer, bahasa asing yang saya tidak mengenal. Berusaha untuk memperhatikan jalur asumsinya.

Menarik ialah kata yang pas untuk memvisualisasikan pembicaraan kami. Anehnya, dia benar-benar mahir dalam beberapa bahasa asing, tetapi kurang kuat bahkan juga masuk sindrom amnesia bahasa wilayah.

Prihatin saya menyaksikan watak orang begitu! Ya, bukanlah saya berlagak anti bahasa asing, tetapi ini tersangkut jati diri. Karena bahasa wilayah ialah sisi budaya yang penting dilestarikan.

Kita bisa saja menghindari akan kejadian ini, tetapi berikut keadaan yang masih belum seutuhnya dirasa oleh golongan cendekiawan. Tidak ada yang keliru, jika kita kuasai 3-4 bahasa, bahkan juga lebih. Seandainya identitas kita tidak boleh turut tergerus dengan kontaminasi budaya lain.

Saya percaya, perlahan-lahan tetapi tentu, angkatan Milenial dan Lalai akan terkikis di tengah-tengah pergerakan bahasa asing.

Coba anda perhatikan sekitar lingkungan, beberapa orang yang pahami bahasa wilayahnya sendiri, tetapi susah untuk berbicara dalam bahasa wilayahnya. Apa ini sisi dari kesombongan cendekiawan? Atau mungkin memang trend bahasa wilayah telah masuk senjakala?

Cara Menulis Essay dengan Mudah: Step by Step

Langkah menulis essay dengan gampang tetap jadi permasalahan yang sedikit membiingungka. Apa lagi jika memang tidak pernah mengawalinya. Saat ini kita akan pelajarinya secara perlahan-lahan, bersiap-siaplah untuk kuasai esai Anda! Ini ialah video pertama dari daftar putar, di mana Anda akan pelajari dasar-dasarnya. Dalam esai akademik, maksudnya untuk memberikan keyakinan pembaca mengenai satu status atau sudut pandang argument yang diumumkan, disokong dengan bukti dan riset. Ada 3 tingkatan khusus saat menulis esai: Penyiapan Koreksi Penulisan Dalam video ini, saya akan cepat lewat semua tingkatan dan cara bersama Anda. Dan di sejumlah video selanjutnya dalam playlist ini, kami akan menerangkan lebih detil untuk tiap step dengan contoh kalimat dan paragraf. Tidak sabar? Silahkan selami!

Lorenzo Cafaro dari Pixabay”>

Dalam step penyiapan, Anda harus lebih dulu pahami pekerjaan dan pilih topik. Sesudah Anda pilih topik Anda, Anda harus membuat tesis awalnya – ini point khusus yang ingin Anda bikin dalam esai, atau status yang akan Anda perdebatkan. Pada step ini, tidak harus disampaikan dengan prima, tapi penting untuk mengawalinya gagasan yang pasti mengenai apa yang ingin Anda ucapkan. Selanjutnya Anda mulai dapat membuat garis besar dan berencana susunan esai Anda. Ini akan mengawali tulisan Anda dan membuat Anda masih pada lajurnya! Penyiapan telah usai, dan saat ini kita awali menulis. Tiap esai diawali dengan pengantar. Penting untuk memancing ketertarikan pembaca selekasnya dan memberitahu mereka mengenai apa akan diulas dalam esai.

Check kembali argument Anda: apa Anda telah menjelaskan semuanya yang ingin Anda ucapkan, atau kerjakan beberapa point perlu restrukturisasi? Paling akhir, yakinkan untuk mengecek gaya bahasa, ejaan, dan pemformatan Anda. Apabila Anda sudah mencuplik sumber di makalah Anda, pakai pemeriksa plagiarism untuk menentukannya semua baik saja! Sesudah Anda mengecek semua dari daftar check ini di sini, Anda siap untuk Manulis Essay! Saat Anda siap, cara Anda setelah itu membuat garis besar untuk esai Anda!

Komunitas Budaya Pemersatu Bangsa

Pada suatu barisan warga atau komune budaya yang tercipta dalam warga seperti; Karang Taruna, Sanggahr Seni, Komune Tradisi, Komune Pencinta Reptil, Komune di sekolah, Komune Spiritual, Barisan ibu-ibu Rebana, Komune Budaya, Barisan Anak Muda Inovatif, dan lain-lain. Komunitas-komunitas ini adalah penyempurnaan beberapa orang sampai jadi kesatuan yang utuh. Satu misi, satu visi, satu rasa, satu beban dan untuk cari satu sepenanggungan, cari jalan keluar, mendapati kesenangan dan kebahagiaan.

Penyatu satu barisan umumnya atas landasan disiplin anggota dan pengurusnya, adalah proses yang bermula dari ada satu misi visi dan punya niat mempersatu ketidaksamaan-perbedaan dalam warga, dibuat supaya terjadi keserasian, bisa sama-sama share keduanya, agar sama-sama pahami bagaimana mendapati jalan keluar bila terjadi satu permasalahan pada suatu barisan warga.

Tiap manusia memerlukan warga lainnya supaya dia bisa bergaul, proses publikasi yang dia lakukan tentunya sejauh hidupnya, karena itu bila dia mendidik dianya jadi rasisme atau dia orang yang menampik ketidaksamaan, karena itu dia ialah orang yang membandingkan dirinya. Dia ada pada suatu mekanisme keyakinan atau ada dalam lingkaran doktrin yang mengatakan jika ketidaksamaan biologis pada ras manusia itu harus jadi pedoman hidup bermasyarakatnya. Sdan dia seperti mempunyai hak untuk mengendalikan ras yang lain.

Tidakkah komune dan barisan sosial ialah komune terbaik yang jauh dari doktrin itu?, bila anda ada pada barisan yang memuji doktrin itu lebih bagus anda keluar dengan baik, karena barisan yang mempunyai banyak. Ssegi negatif ataupun lebih banyak menantang/melawan warga banyak, itu tidak bagus ada.

Satu barisan sosial dan barisan budaya ialah beberapa orang yang menjadikan satu ketidaksamaan tanpa melihat anda berawal dari mana. Sebagai contoh gampang, komune budaya yang berada di semua propinsi di Indonesia ini, saat semua seniman dan angkatan muda ada pada sebuah gedung pertunjukan. Sseperti “Parade Tari Nusantara” yang diadakan setiap tahun di Taman Mini Indonesia Cantik.

Kesayangan mereka ke sama-sama seniman. Ssama-sama angkatan muda pencinta seni budaya terbentuk karena. Skecocokan dan kesesuaian dalam jalankan/membuat perlindungan dan melestarikan seni budaya Indonesia. Mereka menyukai seni budaya wilayahnya, dengan tatap muka ini mereka. Sbisa sama-sama belajar, sama-sama menghitung hasil kreasi, sama-sama memuji. Ssama-sama menghargakan dan sama-sama kagum pada kreativitas seni budaya wilayah.

Manajemen Keuangan Lemah, Berakibat pada Omzet dan Profit Bisnis

Mungkin sejumlah besar dari kita masih bimbang untuk membandingkan di antara omzet dan keuntungan. Omzet ialah penghasilan kotor hasil dari pemasaran satu barang atau layanan dalam periode waktu tertentu. Karena omzet belum dikurangi dengan ongkos produksi dan operasional. Sementara keuntungan ialah keuntungan bersih dari pemasaran barang atau layanan.

Saya berharap anda dapat mengikut dan pahami nalar saya. Nalar atau langkah pandang saya dari pojok Milenial ialah mempunyai usaha atau usaha itu benar-benar bagus. Apa lagi kesempatan menjadi pelaku bisnis sukses terbuka untuk siapa saja di zaman revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 atau biasanya dikenali sebagai sitem jaringan. Di mana segala hal dikontrol oleh mekanisme koneksi internet. Revolusi industri 4.0 berasa kental dalam sehari-harinya kita sekarang ini. Di mana kita bekerja, belajar, menjalankan bisnis, bergaul cuman bertemu lewat koneksi internet.

Kedatangan revolusi industri 4.0 bawa saya pada keberanian untuk membentuk bisnis dalam rasio kecil (mikro). Cuman dengan modal keberanian, saya ngotot untuk meniti usaha dari titik 0. Saya ingin mengikut tapak jejak beberapa pelaku bisnis yang selalu menjelaskan istilah “from zero to hero). Lantas, tanpa manajemen keuangan yang bagus, usaha saya makin ke arah senjakala.

Rasa kuatir, cemas dan ketakutan selalu memburu saya. Saya berasa kuatir, jika usaha saya gulung tikar di tengah-tengah Wabah. Saya cemas, ketika besaran modal awalnya, makin menjerit-jerit, lalu saya takut kehilangan semangat untuk bangun berusaha.

Permasalahan ini saya telah share, tanyakan dengan kakak ponakan saya. Dia merekomendasikan, jika usaha saya alami rugi dan tidak berkembang, mendingan saya stop! Dan konsentrasi untuk bekerja. Ingat saya telah resign dari tempat kerja, cuman untuk membuat usaha sendiri.

Tetapi, jadi seorang pebisnis itu tidak gampang. Ya, modal yang dikeluarkan untuk membuat usaha, tidak sesuai dengan keuntungan. Justru, saya alami rugi. Bahkan juga rugi ini saya telah berulang-kali alami sepanjang setahun lebih.

Manajemen keuangan yang bagus, akan memberi imbas pada kenaikan omzet dan keuntungan. Omzet dan keuntungan bertambah, bersamaan rencana yang masak dalam jalankan bisnis kita.

Demikian fotoan receh dari angkatan Milenial yang ingin belajar menjalankan bisnis.