Komentar Mutu dan Tak Mutu di

Tanggapan pembaca itu yang paling dinanti Kompasianer, sesudah artikelnya tampil. Lantas, kemudian peringkat, sudah pasti. Selanjutnya jumlah pembaca.

Jenjangnya demikian. Pembaca 1,000 pv tetapi reting dan tanggapan kosong, ya, kurang senang. Pembaca 500 pv, reting 50 tetapi tanggapan kosong, ya, senang. Masalah beberapa angka itu, tidak perlu protes, ya. Jika tidak sepakat, membuat sendiri ukuranmu.

Ukuran di atas karakternya kuantitatif. Makin banyak makin senang. Itu rumusnya.

Tetapi itu khususnya berlaku untuk beberapa orang yakin pada beberapa angka. Terang, tujuanku, Daeng Rudy and the Gang.

Buatku, pengikut memahami kualitatif, letak kepuasan ada di kualitas tanggapan. Satu kali lagi, kualitas. Bukan jumlah. Pikirkan artikelmu mendapatkan 100 tanggapan, tetapi didalamnya sama semua: “Ih, diari, kabooor!” Senang?

Saya telah mewawancara Poltak mengenai kelompok kualitas tanggapan. Ia memberikan empat rasio: benar-benar takmutu, takmutu, kualitas, dan benar-benar kualitas.

Berikut beberapa contoh yang diberi Poltak. Markimak, silahkan kita baca.

Benar-benar Takmutu. Ini kelompok tanggapan promo atau berjualan. Mengangfao kita sebagai kobsumen, bukan Kompasianer. Misalkan: “Kami sedia obat kuat. Kontak 0234xxxx,” “Titip artikel ” “Perlu jimat? Kontak: 123456789.”

Takmutu. Ini kelompok basa-basi, basah jadi basi. Sebatas melipur saja, walau sebenarnya kita tidak perlu dihibur. Misalnya: “Sangat bagus, Pak,” “Benar-benar inspiratif, Bu,” “Terima kasih, berguna sekali, Bli,” “Wah, aktual sekali!” Ini banyak komentar yang hanya mengulang-ulang reting. Ngapain loe pencet reting kalau tanggapan loe sama aje, Bang, Mpok.

Kualitas. Nah, ini tanggapan yang berkaitan isi artikel. Maknanya pengamat itu baca artikel. Karena itu dapat kasi tanggapan yang menyambung. Misalnya: “Wah, rupanya peranan tuak di Manggarai sama dengan di Toba,” “Artikel ini memberikan sudut pandang baru mengenai arti jomlo,” “Artikel ini membedah kemisinan kosakata saya.”

Benar-benar Kualitas. Nah, ini tipe tanggapan yang membuat penulis kewalahan. Hingga harus membuka kamus atau ensiklopedia untuk menjawab. Atau justru di inspirasi membuat artikel baru. Dasarnya konentar yang melawan dan mencerdaskan.

Menulis sebagai proses belajar Sosiologi, Batakologi dan Sains Pertanian yang ada.

Seterusnya

Tutup