Tuhan Tahu Apa yang Kita Butuhkan, Bukan Apa yang Kita Inginkan!

Sahabat saya baru sadar dengan pernyataan dari salah satunya Kompasinaer senior, sekalian penulis Yasasan Thamrin Dahlan, yaitu Pak Ajinatha. Di mana salah satunya artikelnya yaitu dengan judul,”Kru Film sinetron dan Film Tidak Beda Kelas.”

Pasti saya tidak tidak kupas apa yang telah diceritakan oleh Pak Ajinatha. Tetapi, saya ingin menceritakan bagaimana harapan saya selalu bertentangan dengan kenyataan.

Tuhan tahu apakah yang kita perlukan, bukan apa yang kita harapkan. Berulang-kali saya tidak berhasil masuk Media. Walau sebenarnya jadi Wartawan ialah harapan saya. Tetapi, fakta yang saya rasakan di atas lapangan selalu tidak seindah dan semenarik imajinasi.

Jujur saya telah tidak berhasil di sejumlah Media, ya awalannya saya pikir, mungkin saya tidak punyai spirit di situ. Apa lagi syarat masuk Media minimum Diploma. Walau sebenarnya saya cuman tamatan SMA, jauh jauh dari harapan pemilik Media.

Tetapi, malam hari ini saya benar-benar mengucapkan syukur jika dengan artikel Pak Ajinatha, saya mendapatkan pencerahan bahwasannya Tuhan tidak kasih apa yang kita harapkan. Tetapi, Tuhan kasih apa yang kita perlukan.

Peluang kita mempunyai kesempatan yang kecil untuk capai apa yang kita harapkan. Sebagai pendekatan kontekstual, begini dech, kita telah menulis dengan segenap hati. Keinginannya ialah dapat masuk cap opsi, atau jadi artikel khusus. Tetapi, tidak juga kita peroleh harapan itu. Lantas kita berduka, kandungan atau semangat berusaha kita tergerus oleh keinginan kita yang tidak sesuai dengan harapan.

Jika flasback berkenaan kehidupan sejauh ini, tentu saja saya telah terima karena dari Tuhan, berbentuk 3 kreasi yang telah saya keluarkan di Media Bikin. Tidakkah ini ialah hadiah atas sesuatu yang saya perlukan? Jika saya ngotot untuk memperoleh apa yang saya harapkan, saya akan mendapat masalah. Kurang lebih fotoan cerita saya serupa dengan penelusuran kita akan keadaan psikis bangsa sekarang ini. Ah, dibanding out of the box, mendingan kita teruskan topiknya.

Tetapi, saya mengetahui bahwasan kita tidak pernah senang dengan yang kita peroleh. Ya, karena kodrat kita ialah cari.

Wes, kita bermain di ranah filsafat ya, sahabat. Tetapi, next time ajalah sahabat. Karena filsuf Plato dalam norma Nikomachea menjelaskan jika, penelusuran paling tinggi dan paling akhir dari manusia ialah kebahagiaan.”