Pandemi Melahirkan Kebingungan Peran

Jika anda yang pernah bergulat di dunia Psikologi, tentu saja kenal kembali dengan penglihatan saya. Karena penglihatan saya ini berawal dari tuntunan Psiokolog Erik Erikson.

Nah, sebaiknya kita berekreasi adrenalin dengan psikiater yang ini. Tentu saja saya tidak kupas atau menggambarkan kembali biografi Erikson. Anda cukup minta panduan di mbak google.

So, kita awali mengenali teori ke-enam Erikson yaitu “Identitas versus Ketidaktahuan Peranan.”

Background pendekatan saya ialah kondisi kita sekarang ini. Di mana Wabah sudah mengaburkan identitas kita. Mengakibatkan, kita berasa bingung dengan peranan kita.

Jati diri atau arah hidp kita saat sebelum Wabah ialah seorang praktisi literasi di salah satunya sektor. Tidak diduga, Wabah sudah tiba, lalu mengaburkan identitas kita. Kita usaha untuk cari peranan baru, untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Tetapi, di lain sisi, kita telah kehilangan jati kita sebagai praktisi literasi. Karena, peranan khusus kita sudah ditukar dengan peranan baru yang sekarang ini kita lalui. Tentu saja, peranan baru kita sekarang ini belum aman, senyaman peranan kita saat sebelum Wabah.

Kita seperti seorang remaja yang mulai bergulat dengan identitasnya. Di mana kita awali bergulat dengan beberapa pertanyaan landasan sekitar, apakah itu sex dan seksualitas? Apa arah hidup saya? Mengapa saya semacam ini? Apa yang perlu saya kerjakan?

Ketidaktahuan akan identitas kita rawan pada bermacam masalah psikis. Salah satunya ialah, stres, stress, masalah komunikasi dengan pasangan, anak, orang-tua, sanak family, teman dekat dan siapa saja yang ada di seputar kita.

Beberapa masalah ini jika tidak ditangani, akan punya pengaruh pada kehidupan kita sesudah Wabah. Di mana sesudah Wabah, kita akan kembali ke kehidupan normal. Permasalahannya, kita akan berasa bingung untuk pilih peranan yang mana?

Serba susah ya. Ada orang yang pilih untuk meng-handel, mengembangkan ke-2 identitas itu. Ada orang yang berani melepas salah satunya peranan, untuk kenyamanan dan waktu senggang dengan keluarga.

So, jalan keluarnya ialah kita harus tentukan peranan yang mana kita lalui. Apa kita harus melepas peranan lama, dan konsentrasi pada peranan baru? Atau mungkin kita melepas peranan baru, dan kembali ke peranan lama kita?