Jejak Aksara Milenial di

Diksi diksi kangen cuman dapat didapat lewat membaca dan menulis. Membaca bisa membuat bertambah khazanah pengetahuan kita mengenai dunia.

Kita tidak perlu mengelana, menelusuri penjuru dunia mana saja, cukup hanya membaca! Membaca ialah sisi tujuan rekreasi yang masih belum dinikmatin oleh beberapa orang.

“Tapak jejak Aksara” adalah coretan angkatan Milenial pada bulan Januari. Kedatangan buku ‘Jejak Aksara’ sebagai bukti bahwasan angkatan Milenial tidak cuma dikenali sebagai golongan tiduran. Tetapi angkatan Milenial memberi peran yang besar sekali dalam memajukan literasi Indonesia.

Literasi membaca masih adalah permasalahan paling besar untuk pemilik +62. Permasalahan ini tidak cuma ada di tanah air tersayang, tetapi permasalahan ini jadi perhatian serius dari PISA (Program for International Student Assessment) yang umumnya diselenggakan tiga tahunan.

Untuk menangani permasalahan ini, tidak cuma pekerjaan Pemerintahan Pusat di bawah Kemendikbud, tetapi kita semuanya wajib perjuangkan literasi membaca di mana saja dan kapan saja kita ada.

Perjuangan kita untuk menghidupkan budaya membaca, dapat dilaksanakan dengan apa saja. Bergantung kreasi kita. Kita dapat menganimasi budaya membaca lewat media bikin (Majalah, Koran, Komik, Novel, dan lain-lain.) Sementara animasi membaca lewat digital (Media Online, website, You Tobe, Tv, dan lain-lain).

Kompasiana adalah Basis digital yang pas untuk literasi membaca dan menulis. Diksi-diksi kangen akan bersatu dalam irama aksara.

Tapak jejak aksara yang sekarang datang di depan anda ialah paket dari artikel opsi saya sepanjang menulis di Kompasiana. Kedatangan saya di Kompasiana baru saja, tetapi ada kegelisahan yang tetap memburu saya untuk menghidupkan ketertarikan membaca dan menulis untuk angkatanku.

Kedatangan buku “Tapak jejak Aksara” sebagai persembahan saya untuk literasi Indonesia. Dari rumah Kompasiana, saya berani mengulik pemikiran, rasa dalam nadi aksara. Paket aksara tinggalkan tapak jejak digital saya di dalam rumah Kompasiana.

Bermula dari kekhawatiran akan lemasnya budaya membaca dan menulis, saya membulatkan tekad untuk mendatangkan buku “Tapak jejak Aksara” sebagai kreasi Milenial di tengah-tengah Wabah.

Diksi-diksi kangen yang tersaji dalam buku ini, seperti style dan kepenulisan Milenial. Style kepenulisan Milenial selalu mengambil sumber dari filsafat jalanan. Di mana saya menulis seperti apa yang dirasakan oleh angkatan Milenial sekarang ini.