Puding Besar

Satu dusun atau daerah umumnya akan populer jika dia mempunyai satu kekhasan pada alamnya, mempunyai identitas yang gampang dikenal, atau tempat lahirnya figur populer, rumah figur nasional apa lagi internasional, populer karena suatu hal yang sudah dibuat oleh penduduknya, mempunyai warisan riwayat, atau mempunyai kebudayaan yang diterima dunia.

Umumnya, dusun yang sudah populer akan menyebar pada satu kedaerahannya yang luas, kita sebutkan sebagai satu propinsi atau satu kepulauan.

Satu dusun berkembang karena dikunjungi beberapa orang luar dan jadi warga yang majemuk, tercipta dari kelompok beberapa orang yang makin berkembang dan tumbuh selanjutnya jadi dusun paling besar dan jadi satu kota.

Puding Besar ialah nama satu dusun/daerah yang berada di Bangka Belitung, persisnya di Kabupaten Bangka. Bersisihan dengan dusun Tanah Bawah, dusun yang sudah melahirkan pendekar daerah yang populer di Bangka tetapi tidak dikenali secara nasional. Salah satu pesilat kuat yang kuasai silat tradisionil “Bintit” Bangka yang dipercayai hampir musnah.

Cuman beberapa orang yang telah berumur lanjut mengenalinya, pendekar ini namanya Sahaq (dikenali dengan panggilan Haji Sahaq). Gelar Haji dia peroleh sesudah menjalankan beribadah haji memakai kapal ke Mekah pada periode penjajahan Belanda.

Haji Sahaq mempunyai cucu namanya Haji Yamin yang tinggal di Puding Besar, karena itu dusun Tanah Bawah dan Puding Besar mempunyai ikatan persaudaraan yang kuat.

Saya ketahui narasi Haji Sahaq dari kakak-kakak saya yang ketahuinya dari Haji Yamin (kakek saya). Waktu kecil kakek saya kerap menceritakan ke saya, tetapi di saat kelas 4 SD kakek saya wafat, begitu itu membuat. Ssaya masih ingat beberapa beberapa ceritanya.

Saya juga masih ingat narasi dari ayah saya, bila kakek Yamin telah buang pengetahuan kanuragannya saat menjalankan beribadah haji.

Yakin atau mungkin tidak, ada satu narasi yang bisa saya katakan ke anda. Haji Sahaq pernah dikejar-kejar (dicari) oleh. Stentara Belanda, karena dia dipandang beresiko karena kuasai pengetahuan kanuragan “Budi Suci” dan pengetahuan beladiri (silat).

Beliau tak pernah ketangkap walaupun disergap di dalam rumah sekalinya, dia bisa lari di atap-atap rumah warga. Sapabila berkelahi dengan isterinya, amarah dia limpahkan dengan berlari-lari antar daerah. Beberapa orang berlainan daerah bercerita bila mereka menyaksikan Haji Sahaq di saat bertepatan. Sedang isterinya yang merajuk (ngambek) menggeser-geserkan badan ke atas karung yang berisi lada dan lada itu dikisahkan jadi debu.